
KANIGARAN – Bapperida Kota Probolinggo menggelar Diskusi Lintas Sektor Terkait Rencana Aksi Kolektif Upaya Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Ruang Pertemuan Lantai 1 Bapperida Kota Probolinggo. Kegiatan yang dilaksanakan Kamis (30/7) ini dibuka oleh Sekretaris Bapperida Imam Cahyadi yang berharap forum strategis ini dapat memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan langkah bersama menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Ini kesempatan yang bagus yang dapat menjadi sarana bagi kita memperkuat kolaborasi untuk semakin menguatkan posisi Kota Probolinggo sebagai Kota Inklusif,” ujarnya.
Diskusi menghadirkan Santoso, Manager Program (Program Manager) PPDiS (Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo/Yayasan Siap Indonesia Inklusi) sebagai narasumber. Dalam paparannya, Santoso menekankan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor dengan mengedepankan prinsip inklusivitas, sehingga setiap kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi maupun mendapatkan manfaat dari berbagai program adaptasi dan mitigasi.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan perangkat daerah, pemangku kepentingan, serta unsur terkait yang memiliki peran dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kota Probolinggo. Melalui diskusi tersebut, peserta bertukar gagasan mengenai strategi, peluang kolaborasi, serta langkah konkret yang dapat diimplementasikan secara bersama.
Santoso menjelaskan bahwa penyusunan rencana aksi kolektif perlu didasarkan pada komitmen seluruh pihak agar kebijakan yang dihasilkan mampu menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus memperhatikan aspek keadilan sosial. Menurutnya, pembangunan yang tangguh terhadap perubahan iklim harus mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Melalui kolaborasi lintas sektor, kita dapat membangun kesepahaman bersama mengenai arah kebijakan, strategi kolaborasi, dan langkah nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Pembangunan rendah emisi harus berjalan seiring dengan upaya menciptakan lingkungan yang inklusif bagi penyandang disabilitas,” ujar Santoso.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat tersusun kesepahaman bersama mengenai arah kebijakan, strategi kolaborasi, serta rumusan rencana aksi lintas sektor yang mendorong pembangunan rendah emisi, tangguh terhadap perubahan iklim, dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan menjadi salah satu landasan dalam memperkuat koordinasi antarlembaga serta mendukung implementasi kebijakan pembangunan berkelanjutan di Kota Probolinggo.
Diskusi lintas sektor ini menjadi wujud komitmen Bapperida Kota Probolinggo dalam membangun kolaborasi yang lebih erat dengan berbagai pemangku kepentingan guna mewujudkan pembangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim, berkelanjutan, serta memberikan manfaat yang setara bagi seluruh masyarakat. (*)
