Matangkan Proyek InCircular, Bapperida Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengelolaan Sampa

KANIGARAN – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Probolinggo menggelar Rapat Koordinasi Penyusunan Konsep Usulan Kegiatan Pelaksanaan Proyek InCircular di Ruang Rapat Lantai I Bapperida Kota Probolinggo. Rapat dipimpin oleh Kepala Bapperida Kota Probolinggo, Dr. R. Suwigtyo, dan dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Probolinggo, Ir. Aries Santoso, serta perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker), Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Perdagangan (DKUP), Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP), Bagian Hukum Setda, Satpol PP, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), BPPKAD, serta Kecamatan Kedopok, Kanigaran, Kademangan, Wonoasih, dan Mayangan.

Rapat koordinasi tersebut merupakan tindak lanjut atas Surat Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Kementerian PPN/Bappenas mengenai permohonan komitmen kerja sama dalam pelaksanaan Proyek InCircular. Melalui forum ini, seluruh perangkat daerah bersama-sama menyusun konsep usulan kegiatan sebagai bagian dari dokumen komitmen Pemerintah Kota Probolinggo dalam mendukung implementasi proyek tersebut.

Dalam arahannya, Kepala Bapperida Kota Probolinggo, Dr. R. Suwigtyo, menegaskan bahwa keberhasilan Proyek InCircular sangat bergantung pada komitmen seluruh perangkat daerah. Menurutnya, konsep ekonomi sirkular tidak hanya berorientasi pada pengurangan timbulan sampah, tetapi juga mendorong perubahan pola produksi dan konsumsi agar sumber daya dapat dimanfaatkan kembali secara berkelanjutan.

“Proyek InCircular merupakan momentum bagi Kota Probolinggo untuk memperkuat tata kelola persampahan secara terpadu. Oleh karena itu, konsep yang kita susun harus mampu mengintegrasikan peran seluruh perangkat daerah sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas,” ujar Suwigtyo.

Proyek InCircular sendiri merupakan inisiatif yang mendukung penerapan ekonomi sirkular (circular economy), yaitu model pembangunan yang mengedepankan pemanfaatan sumber daya secara efisien melalui pengurangan sampah, penggunaan kembali, daur ulang, serta pemulihan nilai ekonomi dari limbah. Pendekatan ini diyakini mampu mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui pengelolaan sampah yang lebih produktif.

Melalui rapat koordinasi tersebut, peserta berhasil merumuskan konsep awal usulan pelaksanaan Proyek InCircular di Kota Probolinggo yang akan menjadi bagian dari dokumen komitmen kerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas. Selain menyusun konsep kegiatan, berbagai perangkat daerah juga menyampaikan sejumlah masukan strategis untuk memperkuat implementasi proyek.

BPPKAD Kota Probolinggo menekankan bahwa pengelolaan sampah harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh perangkat daerah dan tidak hanya dibebankan kepada organisasi perangkat daerah teknis. BPPKAD juga menyoroti masih adanya Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang belum difungsikan secara optimal sehingga diperlukan monitoring dan evaluasi secara berkala oleh Dinas Lingkungan Hidup. Selain itu, pelaksanaan Proyek InCircular juga perlu diselaraskan dengan dokumen perencanaan pembangunan daerah agar memiliki kepastian arah kebijakan dan penganggaran.

Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo menyatakan kesiapan mendukung program melalui pembentukan gerakan “Satu Sekolah Satu Bank Sampah”. Program tersebut diharapkan mampu menanamkan budaya memilah dan mengelola sampah sejak usia dini dengan melibatkan peserta didik, guru, serta seluruh warga sekolah.

Dari unsur kewilayahan, Kecamatan Kedopok mengusulkan agar konsep kegiatan juga memasukkan strategi pengelolaan limbah B3 dan limbah spesifik yang selama ini memerlukan penanganan tersendiri. Masukan tersebut dinilai penting agar sistem pengelolaan sampah di Kota Probolinggo dapat mencakup seluruh jenis sampah secara komprehensif.

Masukan lainnya disampaikan oleh Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bapperida, yang menekankan pentingnya penguatan edukasi kepada masyarakat mengenai pengolahan sampah organik, khususnya sisa makanan. Selain itu, diperlukan penyediaan tempat sampah terpilah di ruang-ruang publik sebagai upaya membangun kebiasaan masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Dalam forum tersebut juga mengemuka gagasan untuk menghidupkan kembali bank sampah yang telah terbentuk di lingkungan perangkat daerah sebagai bagian dari penguatan implementasi ekonomi sirkular di lingkungan pemerintahan.

Salah satu usulan strategis yang memperoleh perhatian peserta rapat adalah peningkatan jumlah Bank Sampah di Kota Probolinggo. Apabila sebelumnya terdapat sekitar 200 bank sampah yang tersebar di tingkat RW, ke depan diusulkan menjadi 383 unit, yang terdiri atas 200 bank sampah di lingkungan RW, 115 di SD dan SMP, 29 di kelurahan, serta 39 di perangkat daerah. Penambahan ini diharapkan mampu memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Probolinggo, Ir. Aries Santoso, menyampaikan bahwa pelaksanaan Proyek InCircular harus menjadi bagian dari gerakan bersama seluruh elemen pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan ekonomi sirkular tidak hanya diukur dari berkurangnya volume sampah, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadikan sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Kota Probolinggo menunjukkan komitmennya untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, kolaboratif, dan berkelanjutan. Konsep usulan yang telah dirumuskan akan menjadi dasar dalam penyusunan komitmen kerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas sekaligus menjadi pijakan bagi implementasi Proyek InCircular di Kota Probolinggo. Program ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya pembangunan yang ramah lingkungan, mendukung target pengurangan emisi, serta mendorong tumbuhnya budaya ekonomi sirkular di tengah masyarakat.