KANIGARAN – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Probolinggo menggelar rapat penyelarasan rencana Program Tematik STIA Bayuangga yang berfokus pada penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kota Probolinggo. Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk menyatukan arah kebijakan sekaligus memperkuat sinergi lintas perangkat daerah dalam upaya menurunkan angka ATS melalui pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bapperida Kota Probolinggo, Dr. R. Suwigtyo, serta dipimpin oleh Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bapperida Kota Probolinggo, Eka Pujiyanti. Hadir pula Ketua STIA Bayuangga Kota Probolinggo beserta perwakilan perangkat daerah yang memiliki keterkaitan langsung dengan penanganan ATS.
Dalam forum tersebut dibahas penyelarasan Program Tematik STIA Bayuangga dengan berbagai program, inovasi, dan layanan yang selama ini telah dilaksanakan oleh masing-masing perangkat daerah. Penyelarasan ini diharapkan mampu menghasilkan langkah terpadu yang saling melengkapi sehingga penanganan ATS dapat dilakukan secara lebih efektif.
Kepala Bapperida Kota Probolinggo, Dr. R. Suwigtyo, menegaskan bahwa penanganan Anak Tidak Sekolah memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan karena penyebab ATS tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pendidikan, tetapi juga kondisi sosial, ekonomi, hingga lingkungan keluarga.
“Penanganan Anak Tidak Sekolah tidak dapat diselesaikan oleh satu perangkat daerah saja. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, perguruan tinggi, dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan maupun meningkatkan kualitas hidupnya,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapperida Kota Probolinggo, Eka Pujiyanti, menjelaskan bahwa penyelarasan program ini bertujuan membangun kesamaan persepsi serta mengoptimalkan peran masing-masing perangkat daerah sesuai tugas dan fungsinya.
“Melalui forum ini kami ingin memastikan seluruh program yang dirancang berjalan saling mendukung. Penanganan ATS harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari identifikasi permasalahan, pendampingan sosial, pemulihan motivasi belajar, hingga pemberian alternatif peningkatan kompetensi bagi anak yang tidak dapat kembali ke pendidikan formal,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo menyatakan dukungannya melalui penguatan inovasi “Sahabat ATS”, yang berfokus pada pendampingan, fasilitasi, dan perluasan akses layanan pendidikan bagi anak-anak yang mengalami hambatan untuk bersekolah.
Sementara itu, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kota Probolinggo siap mendukung melalui layanan advokasi sosial, pendampingan psikologis melalui PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga), serta pelaksanaan tracing atau penelusuran terhadap anak-anak yang teridentifikasi tidak bersekolah.
Dukungan serupa juga disampaikan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Probolinggo. Bagi ATS yang belum memungkinkan kembali mengikuti pendidikan formal maupun pendidikan kesetaraan melalui PKBM, pemerintah akan membuka akses pelatihan keterampilan kerja sebagai bekal untuk meningkatkan kompetensi dan kemandirian.
Ketua STIA Bayuangga Kota Probolinggo menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi atas persoalan yang berkembang di masyarakat melalui pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Program tematik yang disusun diharapkan mampu menjadi model kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan ATS secara berkelanjutan.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta berbagai perangkat daerah terkait, Program Tematik STIA Bayuangga diharapkan dapat memperkuat strategi penanganan Anak Tidak Sekolah di Kota Probolinggo secara terpadu, adaptif, dan tepat sasaran. Kolaborasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen Pemerintah Kota Probolinggo dalam memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan dan kesempatan berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
